Jogja-Pemalang PP
Januari 8, 2008
Kisah ini bermula pada sekitar pukul tujuh pagi tanggal 07 Januari 2008. HP berdering dan terdengarlah suara mas Budi (temen-temen seangkatannya memanggilnya Poltak) yang mengajakku untuk ikut menghadiri undangan dari mas Sugeng ( saudara kita yang baru saja menikah) di Pemalang, Jawa Tengah.
Budi : “Ko, kamu dimana?”
Eko : “Dirumah mas. Ada apa?”
Budi : “Bisa ikut ke tempat mas Sugeng nggak?, soalnya mobilnya nambah satu dan masih ada kursi kosong”
Eko : “Eko kira nggak jadi perginya”
Budi : “Kosmu deket kan?, kira-kira ditunggu 20 menit gimana?”
Eko : “Rumah Eko di Jl Wonosari. Belum mandi ni mas, baru mau mandi.”
Budi : “Ya udah, tak tunggu ya”
Belum mandi, belum makan dan jarak rumah ke kosan tempat berkumpul sekitar 5 km hanya diberi waktu 20 menit. Buat jalan ja dari rumah sekitar 10 menitan. Ya udah akupun cepet-cepet mandi dan mempersiapkan apa yang akan dibawa.
Sekitar pukul 07.20 akupun sampai di kos mas Ali (tempat berkumpul). Disana sudah ada Bang Iwan, Mas Bonafit, Mas Budi (Poltak), Mas Budi (Wonosari), Dodi Abdurrahman, Mas Ali dan temen-temen kosnya beserta keluarga Ibu kos. Sekitar jam delapan setelah mas Reno datang, kami berangkat. Namun kedua mobil berpisah. Mobil satu (Mas Budi, Mas Ali, Mas Budi Wonosari, Dodi, dan keluarga ibu kos) terlebih dahulu menjemput orang tua ibu kos. Dan mobil dua (Bang Iwan, Mas Bonafit, Eko, dan kedua temen kos mas Ali) terlebih dahulu menjemput mas Noor Asyhadi di perempatan Tugu. Kami sepakat bertemu di sekitaran terminal Jombor.
Sekitar jam 08.40 kami sampai ditempat yang telah disepakati. Saat bang Iwan telpon ke mobil satu ternyata mereka malah berada di terminal Giwangan. Ntah ada keperluan apa. Informasi yang kudengar kalau bapak kos beli tiket. “kenapa juga beli tiketnya sekarang” pikirku. Karena beberapa temen di mobil dua belum sarapan, kamipun makan diwarung dekat kami menunggu.
Sekitar pukul 09.30 setelah cukup lama dan cukup membosankan menunggu mobil satu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Pemalang. Lepas dari Magelang kami melalui jalan arternatif melalui pegunungan. Udara dingin dan jalan yang cukup sempit yang bergelombang menyapa kami. Bahkan kami menjumpai sebuah truck yang mogok dan dimarka sebaliknya sebuah truck bermuatan pasir terperosok. Cukup menegangkan. Saat waktu dhuhur, kami sempatkan berhenti di masjid untuk sholat dan beristirahat sejenak.
Cukup lega rasanya setelah sampai jalur utama. Namun sepanjang perjalanan baik saat menembus pegunungan maupun jalan utama, tidak begitu terasa membosankan karena kami (dimobil dua) mengobati kebosanan dalam perjalanan jarak jauh dengan ngobrol dan becanda. Ya ntah sekedar ngobro soal film lucu semisal naga bonar, mengomentari apa yang ditemukan diperjalanan, bahkan “ngrasani” temen-temen di mobil satu yang terlihat “adem ayem” tanpa terlihat adanya “banyolan”. Bahkan mas Budi Poltak “momong” anak ibu kos didalam mobil. Yang cukup lucu juga, temen-temen di mobil dua sepertinya terobsesi dengan durian yang terlihat dipinggiran jalan sampai sampai iklan rokok yang terpampang dipinggir jalan, oleh bang Iwan dikira gambar durian.
Sekitar pukul 15 lebih, kami sampai di Majid Agung Pemalang bertepatan dengan tibanya waktu sholat ashar. Disana kami sholat, istirahat sejenak dan berganti pakaian. Lama kami menunggu mas Bonafit yang terjebak didalam masjid karena hujan. Kamipun melanjutan perjalanan menuju tempat acara (dirumah mertua mas Sugeng).
Tidak begitu lama kami sampai ditempat tujuan. Seneng rasanya bisa menghadiri undangan salah satu saudara kita. Kami disambut mas Sugeng dengan hangat. Yah.. seperti biasa, kita makan-makan, ngobrol dengan mas Sugeng, dan sebagainya. Gambaran tempatnya seperti disebuah komplek perumahan, dan “tenda biru” (bukan sekedar perumpamaan namun juga memang benar-benar berwarna biru) berada dijalan didepan rumah. Didalam tenda, terlihat seperti halnya tempat acara resepsi pernikahan yang belum lama selesai. Maklumlah kami sampai tempat tujuan terlambat cukup lama. Ingin kami berlama-lama ditempat ini bersama sama merasakan kegembiraan atas terlaksananya penikahan saudara kita dan juga menikmati hidangan yang disuguhkan setelah cukup lama berada dijalan. Rencana awal, kami akan meninggalkan tempat acara sekitar pukul tujuh petang setelah mengikuti rangkaian acara berikutnya yang dimulai pada pukul enam dan kemudian singgah sebentar di rumah orang tua mas Sugeng yang tempatnya tidak jauh dari tempat acara berlangsung. Namun seketika kekecewaan menyelimuti mas Sugeng dan temen-temen saat orang tua ibu kos bersikeras mengajak segera pulang. Bahkan keluarga ibu kos dan orang tua ibu kos enggan diajak berfoto. Raut muka mas Sugeng tiba-tiba berubah. Meskipun akhirnya bersedia, namun juru foto sendiri belum siap, karena rencana acara dimulai pukul enam. Aroma kegembiraan berubah dengan aroma kekecewaan. Meskipun sebagian diantara kami berusaha untuk mengembalikan situasi awal, namun tetap saja kekecewaan masih tergambar pada diri mas Sugeng. Apa boleh baut. Eh salah, apa boleh buat (garing ya?), kamipun melanjutkan perjalanan kami ke rumah orang tua mas Sugeng. Disana kami sempatkan sholat maghrib dan isya dengan dijamak.
Setelah cukup lama (dan kami anggap terlalu lama karena khawatir orang tua mas Sugeng akan ada acara selanjutnya) kamipun memulai perjalanan pulang ke Jogja. Rute yang kami ambil berbeda dengan saat berangkat. Kami melalui Banjarnegara. Diperjalanan melalui rute ini lebih seru, menegangkan, dan juga melelahkan. Kami menembus gelapnya hutan, sempitnya jalan, tanjakan yang curam, tikungan tajam, jalan yang licin, kabut tebal dengan jarak pandang sekitar 10 meter dan ditambah salah satu mobil kami kurang beres. Lengkaplah sudah. Kami rombongan mobil dua saat meninggalkan tempat acara, berpindah berganti mobil dengan rombongan mobil satu karena ibu kos minta pindah dengan alasan AC. Dan mobil yang saat kami tumpangilah yang kurang beres. Bang Iwan beserta rombongan dalam satu mobil termasuk saya, sempat turun karena mobil tidak kuat menaiki tanjakan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Mobil sempat mundur beberapa meter. Bahkan terpakasa dimundurkan hingga 30 meteran untuk mengambil “ancang-ancang”. Kamipun berenam jalan kaki menaiki tanjakan menyusul mobil dengan ditemani udara dingin dan malam gelap gulita hanya diterangi taburan bintang dan lampu HP. Bahkan sebagian diantara kami berjalan tanpa beralas kaki. Bisakah ini disebut tadabur alam wamika terjauh?? Namun yang kami herankan, kok bisa-bisanya mas Bonafit sempat smsan.
Perjalanan menegangkan belum berakhir. Tanjakan beserta teman-temannya masih terus menyapa kami tak henti-hentinya. Lebih menegangkan lagi, kami sempat tersesat. Cukup jauh kami tersesat. Kurang lebih 18 Km. Dengan kondisi jalan seperti tadi, serasa perut dikocok-kocok. Mungkin kalau saja kami tidak segera kembali kejalan yang benar, beberapa diantara kami sudah muntah. Namun demikian, diantara kami ada yang tidur.
Lega rasanya bisa sampai di kota Banjarnegara. Kami sempatkan untuk beristirahat sejenak dipingiran jalan Tentara Pelajar untuk mendinginkan mesin dan pikiran. Panasnya mesin dan pikiran tak mampu didinginkan oleh udara malam. Begitu juga dinginnya malam yang menyelimuti kami tak mampu dihangatkannya. Segelas kopi dari warung kaki lima dan celotehan jenaka ungkapan kekecewaan cukup dapat mencairkan situasi.
Perjalananpun kami lanjutkan. Dengan cukup nyamannya kondisi jalan, beberapa dari kami bisa tertidur termasuk saya. Pukul 3.30 pagi kami akhirnya merapat ditempat kami mengawali perjalanan kami.
Inilah cerita singkatku dalam mengikuti perjalanan Jogja-Pemalang PP
04.00.0200
Entry Filed under: crita. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
cahpemalang | Januari 19, 2008 at 4:18 am
Benar-benar perjalanan panjang yang menegangkan kan ko??aku bener-bener salut kepada kalian semua, terima kasih atas kehadirannya, mohon maaf kalau sambutan ataupun hidangan kami kurang berkenan
2.
isdiyanto | Maret 4, 2008 at 12:48 pm
jadi kangen sama kota pemalang….
salam kenal dari http://simpanglima.wordpress.com/